Kisah Payah Si Lelaki Pembangkang
![]() |
| Foto lovepik |
Lelaki pembangkang adalah sebuah julukan bagi An, namun paling menyeramkan bagi sebuah kekuasaan yang sewenang-wenang
mungkin tidak jauh berbeda dengan julukan Minke seorang priyayi tulen pribumi, karena tidak disenangi oleh gurunya dari seorang bangsa penjajah waktu itu.
Perihal pemimpin adalah manusiawi dan niscaya bukanlah dewa yang tak pernah bersalah, lalu kenapa mesti cepat memutung jika dikritik.
Pandangan sinis menyatu dalam ejekan dan hendak menjatuhkan semangat si Pembangkang itu dikala melintas atau hadir pada saat ada forum musyawarah namun an selalu siap untuk menyesuaikan diri.
Di kepala an, hal yang tidak masuk akal, hanyalah nyanyian fals yang tidak berinstrumen musik dan selebihnya humor yang menggelitik.
Katanya, an itu cerewet, semuannya ingin dia urusi, sekalipun bukan urusannya atau ini urusan aku, urusan mereka, tapi menurut an adalah urusan bagi semua manusia yang berakal sehat.
Kalau urusan mencari masala untuk di selesaikan dengan baik siapa saja bisa dan tidak dilarang sepanjang tidak melanggar hukum dan prinsip kemanusiaan.
Saya kira semua pemuda pendiam atau pura-pura buta atas persoalan yang terjadi di sekitarnya pun tidak terlepas dari urusan mencampuri urusan orang, hanya saja tidak ingin mencampurinya jika ada konsekuensi berat dan juga tidak mendapatkan keuntungan untuk dirinya.
An hanya ingin bagaimana penindasan itu lenyap atas persoalan bagaimana kebijakan pemangku tanggung-jawab kepada pemangku hak. Bagaimana perlakuan yang kuat terhadap yang lemah. Bagaimana yang punya harus berbagi terhadap yang tidak punya.
Di sekitar kehidupan an, sebenarnya banyak yang paham dan tahu akan sebuah ketidak Adilan, khususnya pemuda yang bahkan punya basis pendidikan serta pengetahuan yang lebih tinggi, tetapi terlalu banyak juga pertimbangannya dan cenderung lebih memilih bungkam.
Berhubung karena an yang hanya tamat di sekolah dasar (SD) , tentu tingkat kepercayaan atas pengaruh ucapan, tindakan dan orientasi harapan saat dalam forum musyawarah, justru selalu tidak mendapatkan respon. Terlebih jika itu mengandung kritikan membangun.
Pedalaman an sangat menyayangkan pemuda yang punya basis pendidikan akan tetapi lebih memilih apatis yang justru hanya semakin melanggengkan kesewenang-wenangan penguasa untuk menjatuhkan pemuda yang di anggap pembangkang itu.
Ancaman, kesulitan ekonomi dan pelayanan administrasi serta yang paling menggetirkan adalah diskriminasi hukum dan intimidasi beragam bentuk dirasakan an dan keluarganya.
Ego, kesombongan, kerakusan dan ingkar janji tumbuh dan menjamur sampai pada bawahan serta yang menjadi perwakilan masyarakat kolektif pun ikut kena percikan sehingga praktik penindasan yang mengerikan itu akan terus berkelanjutan.
Dan hanya satu hal menjadi ketakutan mereka, yaitu pada manusia seutuhnya yang dapat berkata benar dan berani menanggung konsekuensi.
Menurut an kejadian yang menimpa keluarganya beberapa tahun yang lalu, cukup membuatnya geram dan bahkan an menganggap sebuah tragedi pelampiasan kebencian pribadi atas an dan penghianatan terhadap subtansi hukum.
Rupanya ketidak Adilan adalah hal yang paling sulit dilupakan dari pada mantan kekasih.
Apa yang keluarga an alami sangat ironis, sebuah sengketa tanah yang kemudian disidang oleh pemangku kebijakan setempat, namun justru melenceng dari sebuah prinsip hukum.
Perlakuan yang sewenang-wenang mungkin mudah untuk dimaafkan, tapi tidak mudah dengan lupa dan apalagi dibiarkan, terlebih tentang sebuah kekuasaan yang sarat dengan KKN.
Walaupun di tapak dari sebuah kekuasaan hirarkis, namun dampaknya sangat dirasakan oleh kehidupan masyarakat bawah.
Terlebih karena proses diskriminatif mempengaruhi keberlanjutan sebuah kebenaran untuk generasi pelanjut dan seharusnya sebagai pemimpin dalam bahasa sansekerta bahwasanya "ing ngarso sun tulodo" atau di depan memberikan teladan atau contoh yang baik, bukan justru hal fatal yang dipertontonkan berupa kebohongan atas kehendak sebuah kekuasaan turunan dengan mengklaim bahwa niscaya pemimpin haruslah dipatuhi.
Sepertinya rupa pertiwi yang murung sedu, sebab rindu pada pemilik sosok kebangsawanan di negerinya ini.
........................................................
Di sebelah barat pelosok sinjai, kampung dimana an dilahirkan dan dibesarkan dengan keadaan ekonomi keluarga yang sangat sederhana. Orang tua an bekerja sebagai petani dan penghasilan nya hanya mencukupi kebutuhan untuk menghidupi keluarganya, namun sekalipun serba kekurangan bapak an selalu mensyukuri apa yang ada termasuk tanah yang meskipun warisan orang tua bapak an sedikit, tidak apa-apa yang penting sumbernya halal.
An sendiri adalah anak ke 6 dari 10 bersaudara, bapak an ingin semua anaknya punya pendidikan tinggi, namun karena kondisi ekonomi yang tidak bisa dipaksakan sementara biaya pendidikan cukup mahal, jadi hanya beberapa saudara an yang mampu dibiayai di bantu oleh paman dari silsilah ibu an agar lanjut sampai selesai dan yang lain harus berdiam diri dan membatu orang tua serta mandiri untuk mencari ilmu.
Hari terus meringsek maju dan berkembang sesuai harapan, bagi yang punya harta semakin maju dan bahkan semakin tak terbatas kepemilikannya, sementara yang miskin hanya semakin berharap dan setidaknya berharap apa yang tersisa tidak dirampas lagi oleh kongkalikong pemodal dan penguasa.
Harapan kaum lemah selalu bertolak belakang. Sebagai mana pribahasa bahwa "bertumbuk di Periuk, bertanat di lesung". Apa yang bapak an alami sungguh tidak pernah ia harapkan atau ingin sebelumnya.
Bapak dan an tidak banyak berbuat apa-apa di dalam forum penguasa yang memang notabenenya menyimpan kebencian dan sarat dengan persekongkolan dan kekuasaan serta kebencian yang menyatu dalam proses peradilan.
Bahwa seorang pemimpin seharusnya bijak dalam mengadili 2 orang yang berselisih atau bersengketa, tanpa harus mencampuri dengan kebencian yang akan membuatnya tidak dapat berlaku adil.
Sekali-kali bapak an bercerita sesuai pakta selalu juga diabaikan bahkan oleh siapapun yang hadir di forum persidangan saat itu, hanya satu harapan an, bahwa bagaimana hal yang segetir itu tidak terjadi lagi pada orang lain, sampai demokrasi akan kembali hidup.
Selasa(12/01/21)
Imran

Komentar
Posting Komentar