Aneh tapi nyata. Sebuah rumah yang terkesan angker karena tidak pernah dihuni manusia, ternyata sering dikunjungi orang secara ramai-ramai.




Keberadaan rumah itu tepatnya di dusun soppeng desa turungan baji Kac. Sinjai barat. Kab.sinjai

Rumah itu bahkan sudah permanen di atas puncak gunung yang sebelumnya di bangun tanpa akses jalan yang bisa dilewati kendaraan Untuk mengangkut bahan material.

Saat masyarakat setempat dimintai penjelasan, mereka mengatakan bahwa rumah itu sudah di Bagun sejak lama oleh swadaya masyarakat, hingga sampai sekarang sudah sering di renovasi sampai menjadi permanen. 

 Rumah itu memang dibuat bukan untuk hunian manusia, tapi bagaimana mereka menghargai peninggalan nenek moyang mereka termasuk pengunjung jika melakukan ritual tidak kepanasan dan kehujanan.

" Dalam rumah itu sebenarnya berisi situs bersejarah dari peninggalan nenek moyang masyarakat turungan baji dan itu harus dijaga salah satu caranya adalah dibuatkan rumah, selain kami menghargai peninggalan nenek moyang kami, pengunjung juga tidak kepanasan dikala berada di tempat itu". Ungkap sahibe 

Sahibe 45 adalah tokoh adat sekalipun tokoh masyarakat dusun soppeng dan dirinya pun masuk dalam kelembagaan adat yaitu sanro.

Selain situs peninggalan yang kemudian menjadi budaya, juga di dalam rumah itu terdapat banyak sarang lebah agresif, tapi di dalam rumah itu justru jinak.

"Ia di dalam itu juga ada banyak lebah yang tinggal, tapi tidak pernah mengganggu apalagi menyengat pengunjung" imbuhnya

 Menggali sejarah singkat keberadaan rumah dan sosok pwatta turungan.

Situs batu yang terdapat didalam rumah itu dipercaya bahwa, tempat pwatta turungan duduk sambil menghilang dan sampai saat ini masih dipercaya ada atau hidup.

"Rumah itu adalah rumah peninggalan sejarah dan merupakan tempat asal-usul lahirnya turungan baji".tegas Halima

Halima 85 adalah salah satu tetua adat yang banyak tahu asal-usul dan silsilah kerajaan turungan.

 "Pwatta turungan merupakan raja yang pernah memimpin di kerajaan turungan.

beliau adalah sosok yang sangat dihormati dan disegani oleh rakyatnya. 

Tutur kata dan tingkah lakunya mulia. Beliau juga adalah guru bagi rakyat dan pengunjung, mengajarkan ilmu-ilmu baik pada semua orang" ungkap Halima .

Sabtu 28/11/2020


 Lanjut. Menuru pendapat sebagian warga bahwa, sejak peristiwa luar biasa itu, terjadilah kekosongan kekuasaan. Namun, sebelum pwatta turungan hilang, pwatta turungan sudah membentuk suatu kelembagaan adat yang akan mengurusi tentang kehidupan masyarakat, seperti gellaran Soppeng kemudia menjadi dusun soppeng,

Kelembagaan adat pun terdiri dari gellaran puattomatoa, puangguru, puang anak Karaeng, pinati, biring, sariang, puang sapo tangga dan sanro. 

sanro adalah bertugas untuk membatu orang jika ada yang ingin melakukan ritual di rumah itu atau pun ritual di tempat lain.

An.imran

(Rumah kebudayaan turungan 28/11/20')

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memetik Hikmah di Antara Tujuan Sejati.

Hidup Untuk Disyukuri Seadanya

Kisah Payah Si Lelaki Pembangkang