Terseret Arus Kehidupan Yang Pelik. Lalu Siapa Peduli?.

(Foto ilustrasi: NTMC polri)
Belut bersembunyi dalam lumpur di pinggiran pematang sawah yang rawa milik tuan tanah,  pada malam hari ia kelaparan dan keluar mencari penghidupan lalu tertidur di genangan air, malam semakin larut, belut juga belum tersadar kalau ternyata ia sudah jauh terombang-ambing oleh gelombang arus air kehidupan dan bahkan ada yang bernasib sial dan menjadi tumbal si tuan tanah.

Setelah sampai di rumah, belut diramu pedas kemudian disajikan bersama nasi yang setengah panas di musim dingin, iya begitulah kiranya.

Di daerah tropis musim dingin sama halnya musim hujan. Jadi saat musim hujan aktivitas sedikit terhambat dan ekonomi pasti ikut terpengaruh.

Sedangkan tuan tanah itu kebutuhan nya banyak, bahkan ia sudah punya sangkutan di bank, karena terlena dan tergiur dengan produk perkembangan zaman yang serba praktis dan canggih.
Budaya barter otomatis tercerbut dengan adanya alat tukar yaitu uang, awalnya tuan tanah merasa kalau tanpa modal atau uang semua serba terhambat dan ia ingin memiliki modal berupa uang agar usaha nya lancar.

Tuan tanah kemudian berusaha mencari modal dengan menambah utang di bank, tapi pihak bang tidak bisa memberi modal jika masih ada sangkutan.

Tuan tanah itu berfikir untuk menjual tanahnya dengan harga yang cukup mahal. Namun seolah tidak rela, sebab tanah itu cukup strategis dan produktif. 
Tetapi sekali nekat melempar, harus siap kena batunya.

Akhirnya ia pun menjual tanahnya dengan harga yang pantastis, hasilnya untuk melunasi utang di bank dan selebihnya untuk modal, tapi sisanya dirasa masih tidak cukup untuk bermodal.

Utang di bank lunas juga dan ia merasa lega, bak seseorang yang berbalut lumpur dan kotoran, lalu tiba-tiba bertemu sungai yang deras, sekali menyelam, daki pun hanyut semua. 

Sisa uang hasil penjualan tanah justru menipis dan tidak bisa berkembang, sedangkan kebutuhan justru semakin banyak. tuan tanah itu selain tidak terlalu mahir dalam memutar modal, sumber daya manusianya juga kurang, di tambah persaingan di era neoliberalisme itu kejam.

Lebih besar pasak daripada tiang. Nah itulah yang di alaminya, kebutuhannya lebih banyak sementara hasil yang ia target tidak sesuai dari pendapatan dalam sehari.

 Soal tanggung-jawab kebutuhan keluarga yang harus ia penuhi. ia pun harus membayar pajak mobil, pajak tanah, pajak motor, pajak listrik dan pajak-pajak yang lain.
 Di tambah untuk servis mobil yang sudah tua dan boros BBM serta bang sudah kalah semua dan itu semua butuh modal.

Kebutuhan pendidikan untuk anak-anaknya dia anggap penting,  bahkan ada yang butuh uang untuk bayar SPP kuliahnya dan kebutuhan anaknya yang masih sekolah.

Awalnya tuan tanah menganggap, bahwa usahanya mampu untuk menutupi semua kebutuhannya, tapi modal sedikit ternyata tidak mampu bersaing dengan modal yang banyak, ia sontak teringat oleh bank, namun ia pun selalu berfikir ulang dan tidak mau berutang lagi sama bank, tapi apa boleh buat, kebutuhan seolah ada yang sengaja mengorientasikan manusia kesana saat kehidupan pelik melanda, tak peduli selemah dan bahkan tanpa daya sekalipun tidak ada kasih, sepanjang ada sesuatu hal yang menjadi jaminan, dia dengan senang hati memberi.

Beberapa hari sebelumnya, ia banyak berubah,ubah pikiran tapi pada akhirnya tuan tanah itu kembali mengambil uang di bank, bank pun langsung melayani dengan baik sebab tuan itu tidak pernah cacat namanya di bank. Lalu sebagai jaminannya adalah tanah. Akhirnya seketika uang keluar dan si tuan langsung menerima, ia pun senang bercampur gelisah, rupanya ia sudah tahu bagaimana konsekuensi memakai uang bank.

Tetapi ia pada pendapatnya di awal bahwa ketika uang ada segala urusan lancar. Dan memang dia alami itu sebagai salah satu kesadaran yang kemudian menjadi budaya dalam kehidupan bermasyarakat.
Pelit sudah menjadi prinsip sebab berhemat adalah kunci untuk menjadi kaya dari pribahasa hemat pangkal kaya. 

Bahkan kesombongan akan semakin subur tanpa melaburkan kehormatan.
Semua diukur dari seberapa banyak kasta yang dimiliki. Bukan dari seberapa orang menjaga kejujuran dalam mencari penghidupan.

Beberapa puluh tahun kemudian, adalah suasana semakin pelik dan ironis, tuan tanah itu seketika jatuh bankrut semua kebun sudah banyak terjual dan sebagian yang lain tergadaikan. Ia dan keluarganya hidup dalam kesulitan hidup sekalipun masih tersisa tanah tapi tinggal yang ia tempati rumah. Tanah yang di gadaikan pun tidak bisa diambil lagi jika tidak di bayar tapi bagaimana caranya sedangkan kan untuk makan saja sulit dan harga BBM dan semua kebutuhan pun sudah mulai mahal.

Seiring harga BBM naik semua ikut naik termasuk harga tanah, dan biar bagaimanapun pasti ada penyesalan pada si tuan tanah dan ia hanya tinggal berandai-andai. 

Sebab untuk mencari lapangan kerja pun sulit, jangankan tuan tanah itu, mereka yang punya gelar sekalipun masih banyak menganggur karena ketersediaan sasaran kerja yang minim, termasuk anak sulung yang ia sekolahkan sampai bergelar sarjana salah satunya ikut menjadi pengangguran atau belum punya pekerjaan tetap.

Waktu terus meringsek maju dan ekonomi justru merosot, mau tidak mau ia harus berutang lagi untuk menebus utang, kayak lagu pesan roma irama yang sering terlupa, gali lobang tutup lobang.

Ini di tulis dengan mengambil referensi dari buku tentang bagaimana seorang tuan tanah jadi pemulung dan pengemis di kota, serta menceriterakan kejadian yang di alami salah seorang tuan tanah yang ada di suatu pelosok sinjai, tidak berbeda jauh dari cerita ini, hingga kini kebun miliknya habis terjual, sedangkan utang pun masih banyak di bank dan hanya tempat tinggal rumah yang tersisa dan itupun sudah masuk dalam jaminan utang serta selalu ingin disita oleh pihak bank, namun ironisnya pemangku kebijakan seolah tidak peduli hal ini, kalah mereka merasa bahwa bukan tanggung-jawabnya untuk membantu hal itu, adalah hal keliru.


Begitulah gambaran si tuan tanah dalam kehidupannya, dimana kaum feodal akan tumbang pada kapitalis, dan kapitalis pun pada akhirnya menyerah untuk menindas, saat dimana keadilan di negeri ini termanifestasi dalam kehidupan sosial.
Imran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memetik Hikmah di Antara Tujuan Sejati.

Hidup Untuk Disyukuri Seadanya

Kisah Payah Si Lelaki Pembangkang