Memetik Hikmah di Antara Tujuan Sejati.
![]() |
| Air terjun Balang Lohe |
Sekitar pukul 15:30 Wita berhenti di dekat pertigaan jalan yang saat itu sebenarnya saya berniat untuk mengunjungi salah satu destinasi air terjun Balang Lohe yang menarik dan menggugah hati saya untuk mengunjunginya.
Saat hendak berbelok di pertigaan untuk bertolak menuju air terjun tersebut, seketika saya teringat pada rumah yang pernah saya singgah sebelumnya untuk menyampaikan kiriman keluarganya di makassar yang juga adalah sahabat dan tetua saya.
Saya singgah dan berhenti di alun-alun rumah, sembari mencari tempat parkir yang tepat, lalu saya turunkan standar kaki motor dan seketika mati, saya mencopot kunci dari stand kontak yang masih bergantung pun helm yang berwarna kecoklatan yang masih bertengger di kepala saya dengan stiker kartun spongebob yang sedang tertawa. entah..
Dengan pelan aku turun lalu merapikan pakaian dari hembusan angin sejak dalam perjalanan, saat hendak melangkah menuju tangga rumah, tiba-tiba terdengar suara orang sedang berbincang-bincang di dekat pintu mesjid, saya menoleh penasaran dan ternyata beliau adalah tuan rumah yang baru saja melaksanakan kewajiban sholat adzar.
Beliau melangkah keluar dari pintu mesjid lalu sejenak bercerita dengan sesorang yang saya tidak kenal siapa yang waktu itu dia pandangi saya yang sedang menunggu ustadz.
Lalu saya perhatikan, dirinya seolah minta permisi dan sembari melangkah menuju kediamannya dan ustadz pun ikut pamitan.
Setelah itu beliau pun menuju rumah sambil sesekali memandangi wajah saya dari kiranya lebih 30 Meter jaraknya dan berlahan melangkah menghampiri saya serta mendekat dan tersenyum.
"Ohh kita nak?? Ayo kita naik di rumah!!"
Saya jawab "Iyee "!!
Karena saya memakai jaket tebal dan menutup kepala serta memakai masker sehingga sulit untuk ditebak, saya pasang jaket sebab daerah itu berada di ketinggian yang kira-kira 1700 MDPL, sehingga udaranya begitu dingin.
Saya teringat pada suatu kalimat, bahwa "apalah arti sebuh nama", namun menurut saya "Gunung Perak" adalah nama yang punya arti tersendiri, selain itu juga kaya akan sumber daya alam dan juga menarik untuk dikunjungi.
Selain udaranya yang sangat sejuk dingin mencekam tulang, pemandangan pun indah nan luas, sawah yang berbilik-bilik berisikan padi dan sayuran yang bermacam jenis milik petani yang ramah disapa serta destinasi wisata air terjun balang lohe yang salah satu alasan saya untuk berkunjung.
Waktu itu, angin tak henti-hentinya datang menghempas segala, suasana kerap bertanda hujan akan turun dengan derasnya, sebab sedikit gelap oleh mendung, tetapi rupanya yang datang hanyalah rintik-rintik, hal biasa jika pada musimnya.
Ustadz mengajak saya naik ke rumah, sebab rumah beliau adalah rumah panggung sederhana, saya pun bergerak melangkah pelan, melewati tangga yang entah berapa anaknya, yang jelas kalau budaya arsitek bugis untuk membuat tangga itu berbeda-beda, tetapi ada kuncinya yaitu dibuat ganjil.
Dari yang diketahui mulai 1, 3, 5, 7 ,9 atau 11 dan seterusnya, sebab saya pernah dengar kalau hitungannya harus ganjil, nah itupun saya belum tahu mengapa mesti harus ganjil anak tangganya.
Di beranda rumah beliau, saya terhenti sejenak dan terpaku oleh keindahan pemandangan alam di kejauhan sana, saya melihat sederet gugusan gunung yang memanjakan mata serta gumpalan-gumpalan halimun yang seolah bertapa pada lembah sebelum mengapung ke langit.
Terdengar suara dari Ustadz H.Ismail, sebagai tuan rumah yang juga tetua dan guru saya, memanggil saya masuk, "masuk ki di sini nak", saya pun masuk sambil mengucapkan salam dan beliaupun menjawab salam serta mempersilahkan saya duduk.
Sebelum memulai perbincangan, beliau memesan minuman panas pada ibunda dan saya pun sedang menyimpan ged-ged dengan benar di atas meja serta memperbaiki posisi duduk di kursi yang empuk.
Tidak lama, datang ibunda membawa dua cangkir kopi panas dan mempersilahkan saya minum sembari di sambung dengan ucapan yang sama oleh pak ustadz.
Kami pun memulai perbincangan, berawal dari soal keadaan keluarga dulu soal haji dan umroh, pengalaman kehidupan pelik di musim pandemi dan tentang banyak hal lagi.
Terakhir perbincangan justru mengarah pada konteks dan penjelasan tentang jurnalistik, soal integritas profesional seorang jurnalis itu sebenarnya sangat penting dan butuh prinsip, terutama bagaimana penjelasannya dari pandangan religius.
"Bahwa setiap orang punya dua jurnalis dalam dirinya".
Adalah suatu ungkapan kalimat yang sederhana tetapi menggugah rasa penasaran saya untuk tahu hingga menyentuh paling dasar dari dalamnya makna.
"Tapi banyak yang tidak takut karena tidak berwujud, yaitu malaikat Rakid dan Atid yang dimuliakan serta bertugas mencatat amal kebaikan dan keburukan manusia".
Seketika kalimat itu saya tanam baik-baik dalam ingatan, namun saya pikir entah sampai kapan bertahan dari lupa, saya akan berusaha mengingat salah satunya dengan tulisan.
Ungkapan Beliau, selalu sarat dengan kebijaksanaan, bahwa manusia itu memiliki kewajiban untuk berbuat baik dan benar di dunia ini sesuai petunjuk-Nya, namun terkadang juga manusia khilaf dan bahkan sampai berbuat tercela dan salah dan itu tidak luput dari buku catatan malaikat.
Setiap manusia punya dua malaikat yang mulia dan tidak pernah lelah apalagi luput dari catatan perbuatan baik dan buruk tak terkecuali seorang jurnalis.
Manusia diberikan suatu kelebihan berupa akal untuk dapat membedakan hal baik dan buruk, hal benar dan salah akan tapi hawa nafsu terkadang lebih licik untuk memperdaya diri hingga membuat khilaf.
Tidak seorang pun dapat mengetahui persis bagaimana isi hati kecuali diri sediri, tetapi malaikat mampu mengetahui dan mencatat secara detail serta terperinci semua perbuatan manusia, bahkan sejak dari isi hati, pikiran dan terlebih dengan perbuatan manusia ke dalam buku catatan yang berjudul Sijjin dan Illiyin.
Penulis: Imran

Keren 💚
BalasHapusTerima kasi
Hapus